KENDARI — Universitas Mandala Waluya kembali membuktikan komitmennya sebagai institusi pendidikan tinggi yang tidak hanya menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga mengambil peran aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui Unit Suara Mahasiswa, universitas yang berlokasi di kota Kendari ini meluncurkan serangkaian penelitian inovatif yang melibatkan kolaborasi erat antara dosen dan mahasiswa untuk menciptakan solusi konkret bagi permasalahan sosial, ekonomi, dan lingkungan di Sulawesi Tenggara.
Penelitian-penelitian tersebut telah menarik perhatian berbagai pihak, mulai dari kalangan akademisi, pemerintah lokal, hingga organisasi internasional yang berkecimpung dalam pembangunan berkelanjutan. Inisiatif ini menjadi bukti nyata bahwa tri dharma perguruan tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—dapat diimplementasikan secara sinergis dan memberikan dampak positif yang terukur.
### Latar Belakang: Komitmen Universitas Mandala Waluya terhadap Inovasi
Universitas Mandala Waluya telah mengalami perkembangan signifikan sejak didirikan dua dekade lalu. Sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi terkemuka di kawasan Sulawesi Tenggara, universitas ini terus berupaya meningkatkan kualitas riset dan pengabdian masyarakat. Kehadiran Unit Suara Mahasiswa—sebuah badan internal yang dirancang untuk memfasilitasi ekspresi, partisipasi, dan inisiatif akademik mahasiswa—menjadi katalis penting dalam memberdayakan mahasiswa untuk tidak sekadar menjadi penerima ilmu, melainkan juga kontributor aktif dalam penciptaan pengetahuan baru.
Pendirian Unit Suara Mahasiswa tiga tahun lalu merupakan respons konkret terhadap kebutuhan akan forum yang mampu mengakomodasi ide-ide segar dari kalangan mahasiswa, sekaligus membimbing mereka dalam mengembangkan inisiatif penelitian yang relevan dengan konteks lokal Sulawesi Tenggara. Unit ini bekerja sama dengan berbagai departemen akademik dan pusat penelitian di kampus untuk memberikan dukungan metodologis, pendanaan, dan akses terhadap sumber daya yang diperlukan.
### Riset Inovatif yang Mengubah Paradigma
Pada kesempatan press conference yang digelar di aula utama Universitas Mandala Waluya, Kamis (18 April 2026), universitas secara resmi mengumumkan lima proyek penelitian unggulan yang menunjukkan kolaborasi produktif antara dosen pembimbing dan tim mahasiswa peneliti. Kelima proyek tersebut mencakup berbagai disiplin ilmu, mulai dari teknologi pertanian berkelanjutan, konservasi laut, inovasi digital untuk UMKM, hingga pengembangan material ramah lingkungan.
Proyek pertama, berjudul “Sistem Irigasi Pintar Berbasis Internet of Things untuk Petani Padi di Lahan Marjinal Sulawesi Tenggara,” dipimpin oleh Dr. Bambang Sutrisno, Dosen Teknik Pertanian Universitas Mandala Waluya, bersama tim mahasiswa dari Program Studi Teknik Pertanian. Penelitian ini dirancang untuk membantu petani lokal mengoptimalkan penggunaan air irigasi melalui sensor otomatis yang dapat dipantau via aplikasi mobile. Teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian hingga 40 persen sambil mengurangi konsumsi air sebanyak 35 persen.
“Kami memahami bahwa petani di Sulawesi Tenggara menghadapi tantangan unik, terutama terkait variabilitas curah hujan dan akses terhadap teknologi modern,” ujar Dr. Bambang Sutrisno dalam konferensi pers tersebut. “Melalui riset ini, kami tidak hanya menciptakan solusi teknologi, tetapi juga memastikan bahwa teknologi tersebut dapat diadopsi oleh petani dengan keterbatasan modal dan latar belakang pendidikan yang beragam. Mahasiswa kami terlibat langsung dalam pengujian lapangan, sehingga mereka memiliki pengalaman praktis yang sangat berharga.”
Proyek kedua, “Konservasi Terumbu Karang dan Peningkatan Kesejahteraan Nelayan Melalui Ekowisata Laut Berkelanjutan,” diprakarsai oleh Prof. Dr. Siti Nurhaliza, Profesor Biologi Laut sekaligus Direktur Center for Marine Research and Development Universitas Mandala Waluya. Riset ini melibatkan mahasiswa dari Program Studi Ilmu Kelautan dan Manajemen Sumber Daya Pesisir yang melakukan monitoring jangka panjang terhadap kesehatan terumbu karang di beberapa lokasi strategis di Sulawesi Tenggara.
“Sulawesi Tenggara memiliki potensi laut yang luar biasa, namun juga menghadapi ancaman dari overfishing dan perubahan iklim,” ungkap Prof. Dr. Siti Nurhaliza. “Proyek kami berusaha menciptakan model ekonomi alternatif bagi nelayan—khususnya melalui ekowisata—tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem laut. Mahasiswa kami telah melakukan survei sosial ekonomi terhadap 150 keluarga nelayan dan mengembangkan program pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal mereka.”
Proyek ketiga berfokus pada “Platform Digital Berbasis Artificial Intelligence untuk Pemberdayaan UMKM Lokal di Era Transformasi Digital.” Proyek ini dipimpin oleh Dr. Hendra Wijaya, Dosen Informatika dan Sistem Informasi, bersama mahasiswa dari Program Studi Teknologi Informasi. Platform yang dikembangkan dirancang untuk membantu UMKM lokal melakukan digitalisasi bisnis mereka dengan antarmuka yang user-friendly dan dukungan customer service dalam bahasa daerah.
“Banyak UMKM di Sulawesi Tenggara yang sebenarnya memiliki produk berkualitas tinggi, namun mereka kesulitan untuk memperluas jangkauan pasar karena keterbatasan pengetahuan teknologi digital,” jelaskan Dr. Hendra Wijaya. “Platform kami dilengkapi dengan fitur marketplace terintegrasi, manajemen inventori otomatis, dan analitik penjualan real-time. Lebih penting lagi, kami melakukan pelatihan langsung kepada UMKM untuk memastikan mereka dapat menggunakan platform ini secara optimal. Hingga saat ini, sudah 75 UMKM lokal yang telah terdaftar dalam platform kami.”
Proyek keempat, “Pengembangan Material Polimer Biodegradable dari Limbah Pertanian untuk Kemasan Ramah Lingkungan,” dipimpin oleh Dr. Eka Putra Sumantri, Dosen Kimia dan Rekayasa Material. Riset ini menggabungkan keahlian mahasiswa dari Program Studi Kimia dan Teknik Kimia untuk mengubah limbah pertanian seperti sekam padi dan kulit jagung menjadi material kemasan yang dapat terurai secara alami dalam waktu 6 bulan tanpa meninggalkan residu beracun.
“Indonesia menghasilkan jutaan ton limbah pertanian setiap tahunnya, dan sebagian besar limbah ini tidak dimanfaatkan secara optimal,” kata Dr. Eka Putra Sumantri. “Kami percaya bahwa ekonomi sirkular bukan hanya konsep yang indah, tetapi juga sesuatu yang dapat diimplementasikan di tingkat lokal. Mahasiswa kami telah melakukan eksperimen dengan berbagai formula dan telah mencapai hasil yang sangat menjanjikan. Kami sedang dalam tahap negosiasi dengan beberapa perusahaan kemasan lokal untuk melakukan uji coba skala industri.”
Proyek kelima, “Program Pemberdayaan Perempuan Melalui Pelatihan Keterampilan Digital dan Kewirausahaan,” dipimpin oleh Dr. Lidia Mahandra, Dosen Ekonomi dan Pembangunan Manusia. Proyek ini telah melatih lebih dari 200 perempuan dari berbagai latar belakang untuk mengembangkan keterampilan digital dasar dan literasi finansial, dengan tujuan akhir mendorong mereka untuk memulai usaha kecil mereka sendiri atau meningkatkan usaha yang sudah ada.
“Pemberdayaan perempuan adalah kunci untuk pembangunan berkelanjutan,” ungkap Dr. Lidia Mahandra. “Melalui riset ini, kami tidak hanya mengumpulkan data tentang hambatan yang dihadapi perempuan dalam mengakses ekonomi digital, tetapi juga secara langsung memberikan pelatihan dan mentoring kepada mereka. Mahasiswa kami berfungsi sebagai mentor, dan proses mentoring ini sekaligus memperdalam pemahaman mereka tentang dinamika sosial ekonomi di komunitas lokal.”
### Dukungan Pimpinan Kampus dan Komitmen Berkelanjutan
Antusiasme terhadap penelitian-penelitian inovatif ini juga ditunjukkan oleh pimpinan Universitas Mandala Waluya. Dr. Sutono, S.H., M.Hum., Rektor Universitas Mandala Waluya, memberikan kata sambutan yang menekankan pentingnya riset untuk kemajuan institusi dan kontribusi nyata kepada masyarakat.
“Universitas Mandala Waluya bangga menjadi bagian dari perjalanan transformasi Sulawesi Tenggara,” ujar Rektor Sutono dalam pembukaan acara. “Penelitian-penelitian yang kami umumkan hari ini bukan sekadar hasil akademik yang akan disimpan di perpustakaan digital kami, tetapi karya-karya yang dirancang untuk memberikan manfaat konkret kepada masyarakat. Unit Suara Mahasiswa telah membuktikan dirinya sebagai inkubator ide-ide cemerlang, dan saya berkomitmen untuk terus memberikan dukungan penuh, baik dalam bentuk pendanaan, fasilitas penelitian, maupun akses ke jaringan kolaborasi yang lebih luas.”
Lebih lanjut, Rektor Sutono juga mengumumkan alokasi dana tambahan sebesar 2,5 miliar rupiah untuk tahun akademik 2026-2027 guna mendukung riset mahasiswa dan dosen. Dana ini akan didistribusikan melalui skema kompetitif yang transparan, dengan prioritas diberikan pada penelitian yang menunjukkan potensi dampak sosial dan ekonomi yang signifikan.
Hal serupa juga disampaikan oleh Dra. Nur Azizah, M.Pd., Kepala Unit Suara Mahasiswa. Menurutnya, keberhasilan penelitian-penelitian ini merupakan hasil dari ekosistem akademik yang mendukung sinergi antara mahasiswa dan dosen.
“Unit Suara Mahasiswa didirikan dengan visi untuk menciptakan ruang di mana ide-ide mahasiswa dapat dikembangkan secara sistematis dan mendapat dukungan penuh dari institusi,” jelas Dra. Nur Azizah. “Kami telah membentuk kelompok-kelompok kerja tematik yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai program studi dengan dosen-dosen yang memiliki keahlian di bidang yang relevan. Hasilnya, kami melihat pertumbuhan eksplosif dalam jumlah dan kualitas proposal penelitian yang diajukan oleh mahasiswa dalam dua tahun terakhir.”
### Dampak Ekonomi dan Sosial yang Terukur
Dampak dari penelitian-penelitian ini sudah mulai terasa di berbagai tingkatan masyarakat. Dalam hal proyek sistem irigasi pintar, misalnya, 45 petani di Kecamatan Konawe telah mengadopsi teknologi ini dan melaporkan peningkatan hasil panen yang signifikan. Salah satu petani adopter, Bapak Muh. Arsyad (55 tahun), berbagi pengalamannya dalam kesempatan tersebut.
“Sebelumnya, saya sering kebingungan kapan waktu yang tepat untuk mengairi sawah, terutama saat musim pancaroba. Teknologi dari mahasiswa Universitas Mandala Waluya ini memberikan saya informasi real-time tentang kelembaban tanah dan cuaca yang diprediksi,” tutur Bapak Arsyad sambil menunjukkan aplikasi di smartphone-nya. “Hasilnya, produksi padi saya meningkat dari rata-rata 6 ton per hektar menjadi 8,5 ton per hektar dalam satu musim tanam saja. Biaya air juga turun karena saya tidak lagi mengairi berlebihan.”
Untuk proyek konservasi terumbu karang, dampaknya terlihat dari peningkatan kesadaran ekologis di kalangan nelayan. Lebih dari 120 nelayan telah tergabung dalam kelompok pelestarian terumbu karang yang didukung oleh mahasiswa peneliti. Kelompok ini juga telah memulai inisiatif ekowisata dengan memandu wisatawan untuk melakukan snorkeling di area konservasi sambil belajar tentang pentingnya pelestarian laut.
“Kami dulu tidak terlalu memperhatikan kesehatan terumbu karang karena fokus kami hanya pada menangkap ikan sebanyak mungkin untuk menghidupi keluarga,” ujar Bapak Hasan, 48 tahun, nelayan Kendari yang kini menjadi guide ekowisata. “Tetapi mahasiswa-mahasiswa dari universitas menunjukkan kepada kami bahwa terumbu karang yang sehat berarti ikan yang lebih banyak untuk ditangkap di masa depan. Sekarang, saya bahkan mendapat penghasilan tambahan dari ekowisata, dan saya merasa lebih bangga karena saya turut berkontribusi dalam menjaga laut.”
Dampak ekonomi juga terlihat dari platform digital UMKM. Para pelaku UMKM yang tergabung dalam platform melaporkan peningkatan rata-rata 150 persen dalam volume penjualan mereka sejak bergabung. Seorang pengusaha kopi lokal, Ibu Siti Rachmawati, mengungkapkan bahwa platform tersebut membuka peluang baginya untuk menjual produk ke seluruh Indonesia.
“Sebelumnya, produk kopi saya hanya dijual secara lokal dengan margin keuntungan yang sangat kecil,” cerita Ibu Siti. “Melalui platform yang dikembangkan mahasiswa Universitas Mandala Waluya, saya dapat menjangkau pasar nasional dengan biaya operasional yang jauh lebih efisien. Omset saya yang dulu hanya 50 juta per bulan sekarang mencapai 130 juta per bulan. Saya sudah bisa mempekerjakan 5 orang karyawan tambahan.”
### Pengakuan